Total Pageviews

Thursday, October 17, 2013

I'm falling in love with cooking

Bulan depan aku akan tepat 2 tahun tinggal di Jakarta, tepatnya di Kost Kelud 9 Residence. Tahun pertama aku ngekost di sini bersama sahabatku Mba Ayu. Memasuki tahun kedua di Jakarta, Mba Ayu pindah ke Jepang karena mendapatkan beasiswa S2 di sana. Selama aku bareng Mba Ayu yang hobi masak, lama-lama aku jadi ketularan suka masak. Awalnya aku sekedar membantu Mba Ayu masak, lama-lama kami berdua membagi "pekerjaan" masak-memasak ini menjadi 2. Misalnya Mba Ayu bagian memasak sayur, aku bagian memasak lauk, etc. Kami memang sahabat yang kompak dan kebetulan memiliki selera yang sama dalam makanan. Aku menjadi spesialis sambal pedas dan ikan goreng. Kadang aku dan Mba Ayu masak dalam jumlah cukup besar jadi bisa mengajak beberapa teman kost untuk ikut makan bareng bersama kami. Biasanya sih yang ikut makan bareng kami adalah Mas Rian dan Mas Fikri. Mereka suka dengan masakan kami! :)

Setelah Mba Ayu pindah ke Jepang dan aku di Jakarta sendirian, aku merasa kesepian karena kehilangan sahabat plus partner belanja+masak. Tapi aku tetap meneruskan tradisi masak-memasak. Aku masih hobi belanja di Farmers Market atau di Carrefour, lalu masak untuk makan malam. Biasanya aku masak dalam jumlah yang cukup untuk dimakan berdua, jadi biasanya makananku lebih. Makananku yang lebih ini kadang kubagikan ke penjaga kost atau teman kost. Energi dan waktu yang dibutuhkan untuk memasak makan malam buat 1 orang atau 2 orang itu masih sama. Masak untuk 1 porsi orang itu agak susah, apalagi aku termasuk orang yang tidak bisa makan banyak, jadi biasanya makananku lebih. Untung ada Mas Rian, Mas Fikri atau Mas Bimas yang biasanya menjadi "korban" yang kuajak untuk menghabiskan makanan yang kumasak.

Aku biasanya belanja sendirian, tapi akhir-akhir ini aku sering belanja bareng Mas Rian. Mas Rian juga sering memberi ide tentang jenis makanan apa yang bisa aku masak buat makan malam, hehehe. Aku sering banget masak sambel, ikan tengiri goreng, dan tumis kangkung. Atas ide dari Mas Rian, aku mulai mencoba masak sayur bayem, kedelai, ikan mas, ikan nila, dll. Ternyata hasil masakanku semakin enak dan aku makin bisa multitasking selama di dapur, jadi aku bisa memasak dengan waktu yang lebih efisien.

Aku semakin kecanduan masak, masak dan masak. Dalam seminggu aku bisa masak hingga 4 kali. Aku masak hanya pada waktu malam hari sepulang kerja. Makan pagi dan makan siang masih beli di kantor. Mungkin nanti kalau sudah punya suami dan anak, baru sempat masak buat sarapan keluarga :)

Dulu Ibu khawatir sekali aku tidak bisa masak. Aku memang dulu tidak bisa dan tidak pernah masak sama sekali. Dulu aku menggoreng telur, nugget atau apapun, pasti gosong. Aku bahkan tidak bisa membuat mie instant dengan baik. It's very funny how things change. 2 tahun terakhir ini aku mulai tertarik dan hobi masak. Aku rajin browsing resep, menonton video cara memasak, dan mempraktekkannya segera.

Aku sudah bisa membuat menu makan utama hingga makanan penutup. Aku sudah mempunyai blender untuk membuat jus dan sudah mempunyai electric oven untuk membuat aneka kue. Seperti biasa, "korban" dari semua percobaan resep yang kupraktekkan adalah Mas Rian teman kostku. Aku selalu meminta honest opinion dari dia supaya aku bisa meningkatkan kualitas rasa makanan.

Meskipun Mba Ayu di Jepang dan aku di Jakarta, kami masih sering berkomunikasi via internet. Kami sama-sama belajar memasak resep-resep baru. Kami sharing kegiatan memasak kami masing-masing. Project di masa depan kami berdua adalah mendirikan cafe / restoran. Semoga suatu saat impian kami terwujud :)

Friday, July 5, 2013

Visited Hong Kong & China for a week (April 2013)






Sulawesi Trip 2013



Saya mengunjungi Sulawesi untuk yang keempat kalinya tahun ini. Saya pertama kali ke pulau ini pada tahun 2008 untuk mengikuti joint research antara Indonesia dan Jepang tentang budaya maritim Sulawesi, khususnya di Kepulauan Spermonde. Pada saat itu saya berlayar mengelilingi Kepulauan Spermonde selama hampir 2 minggu dengan menggunakan kapal phinisi Cinta Laut. Dari situlah saya mulai jatuh cinta dengan keindahan pulau ini. Dari kegiatan itu pula, saya mendapat sahabat-sahabat baru dari Sulawesi.
Tanggal 7 Juni 2013, perjalanan saya ke Sulawesi dimulai. Biasanya saya mengunjungi Sulawesi dalam rangka mendatangi acara penelitian atau konferensi, tapi kali ini saya datang ke sini murni dalam rangka jalan-jalan dan silaturahim dengan sahabat-sahabat saya di sini. Sebenarnya saya berencana datang pada bulan April lalu, tetapi karena saya ada acara kantor ke China & Hong Kong, akhirnya saya menunda perjalanan saya ke Sulawesi menjadi bulan Juni. Saya beli tiket pesawat lagi karena tiket bulan April sudah hangus.
Malam hari sebelum ke bandara, saya berusaha menyelesaikan pekerjaan kantor supaya tenang. Saya juga mulai jenuh dan stress dengan pekerjaan, jadi saya merasa butuh untuk refreshing. Setelah packing saya tidak bisa tidur karena memikirkan kalau besok harus berangkat ke bandara subuh. Saya biasanya tidak bisa tidur kalau besoknya harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya menelpon taxi blue bird supaya menjemput saya besok pagi. Saya setel alarm dan saya juga minta dibangunkan oleh Ibu saya via telpon.
Saya berangkat ke bandara Adi Sucipto pada jam 4 pagi. Saya check in, lalu sholat Subuh di musholla bandara sambil menunggu boarding. Jam 7 pagi pesawat take off dan Alhamdulillah saya tiba di bandara Makassar setelah 2 jam penerbangan. Senang sekali rasanya datang kembali ke pulau ini. Saya menunggu jemputan sahabat-sahabat saya dari Cinta Laut. Tak lama kemudian saya dijemput oleh Nhini dan Syifa dengan mobil. Kami langsung makan siang di unch menu at Aroma Luwu: kapurung, ikan parede, ruji/dange.Saya pecinta seafood, terutama ikan bakar dengan sambal khas Sulawesi. Saya dijemput oleh sahabat-sahabat saya dan diajak keliling Makassar untuk wisata kuliner. Saya menikmati aneka makanan khas seperti coto paraikatte, songkolo, putu cangkir, kapurung, ikan parede, ruji/danged dan pisang epe. Saya juga mengunjungi kampus Universitas Hasanuddin dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Perjalanan saya selanjutnya adalah mengunjungi Tana Toraja. Saya berangkat dari Makassar jam 22.00 dengan menggunakan bus dan sampai di Rantepao pada jam 06.00. Saya sudah booking hotel dari internet sebelum datang ke sini, jadi saya langsung check in ke hotel, lalu siap-siap keliling ke tujuan-tujuan wisata di Tana Toraja. Saya menyewa seorang guide untuk mengantar saya jalan-jalan selama 1 hari penuh. Sore hari saya kembali ke hotel dan beristirahat karena besok saya akan melakukan perjalanan lagi, yaitu menuju ke Mandar, Sulawesi Barat.
Perjalanan saya menuju salah satu lokasi favorit saya, Mandar, dimulai pada jam 08.00. Saya berangkat dengan menggunakan bus antar kota, namanya bus Pelangi. Selama perjalanan, saya disuguhi pemandangan yang sungguh indah. Bus yang saya naiki memutar lagu-lagu bahasa Toraja dan lagu-lagu nostalgia Indonesia. Setelah 6 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Pare Pare. Dari situ saya naik ojek ke Lapede untuk naik angkutan umum yang berupa mobil Kijang atau Panther. Dari Lapede saya menuju Pinrang, lalu ganti angkutan umum menuju Wono dan lanjut ganti angkutan lagi menuju Tinambung, Mandar. Selama perjalanan dari Pare Pare ke Mandar, semua orang heran melihat saya backpackeran sendirian keliling Sulawesi. Mereka terkejut saya baru saja melakukan perjalanan dari Toraja menuju ke Mandar. Mereka cerita bahwa banyak orang Sulawesi sendiri yang belum datang ke Toraja karena lokasinya cukup jauh. Saya merasa sedikit bangga sudah berhasil menginjakkan kaki di Tana Toraja. Selama perjalanan, saya sudah mendengar bahasa Makassar, Toraja, Bugis dan bahasa Mandar. Meskipun saya tidak paham bahasa itu, tetapi saya merasa bahagia bahwa Indonesia mempunyai beragam bahasa daerah yang masih aktif digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Perjalanan Toraja ke Mandar total membutuhkan waktu 11 jam dan 6 kali ganti kendaraan. Saya sempat heran karena angkutan umum yang saya naiki selalu diisi hingga melebihi kapasitas. Satu mobil Panther/Kijang diisi hingga 15 orang. Mungkin karena angkutan umum masih jarang di sini, jadi kalau ada penumpang yang menghentikan angkutan, supirnya biasanya akan tetap berusaha mengangkut penumpang tersebut karena merasa kasihan kalau tidak diangkut. Meskipun demikian, saya terkesan dengan keramahan orang-orang di sini. Mereka mengajak saya ngobrol sepanjang perjalanan saya dan memberi tahu angkutan mana yang harus saya naiki.
Saya disambut dengan hangat oleh keluarga Mas Muhammad Ridwan Alimuddin, salah satu budayawan Mandar yang aktif. Beliau adalah senior saya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sekaligus senior saya di program Sailing Practice Cinta Laut. Ini adalah kunjungan kedua saya di Mandar. Pada kunjungan saya yang pertama kali, saya sempat melihat pembuatan kapal sandeq, menaiki sandeq, menaiki lepa-lepa, melihat pembuatan tali roppong, pembuatan kain tenun sutera, melihat upacara khataman Al-Qur’an dan tentu saja menikmati aneka makanan yang sangat enak, terutama ikan bakar dan sambal khas Sulawesi.
Pada kunjungan saya kali ini, Mandar sedang musim telur ikan terbang. Saya mengunjungi kampung nelayan Pambusuang untuk melihat kegiatan nelayan di musim ikan terbang. Ikan terbang (Hirudincthys oxycephalus) yang dikenal dengan nama daerah ikan Torani (makassar), Tuing-tuing (Bugis), Caeqeng (Mandar), adalah ikan adalah salah satu jenis ikan pelagis kecil (ikan permukaan) yang hidup pada laut dalam kawasan tertentu. Menurut hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Laporan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahwa diperairan Indonesia terdapat Tiga kawasan yang merupakan habitat ikan terbang, yaitu laut Seram (Fak-fak), Laut Flores dan Selat Makassar.
Usaha penangkapan telur ikan terbang di selat Makassar merupakan salah satu mata pencaharian nelayan di pesisir Teluk Mandar. Ketika musim timur dimulai, nelayan mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan penangkapan telur ikan terbang. Kegiatan ini disebut motangnga yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “menengah”. Yaitu kegiatan menangkap telur ikan terbang di atas palung Selat Makassar. Nelayan yang melakukan kegiatan motangnga disebut sebagai potangnga. Pada saat motangga, nelayan harus berlayar di tengah lautan selama 10-15 hari sambil menunggu alat tangkap yang berada di depan perahunya didatangi ikan terbang untuk melekatkan telurnya pada alat tangkap.
Informasi lain mengatakan bahwa disebut motangnga sebab musim penangkapan ikan terbang dilakukan di antara akhir musim barat dengan awal musim timur (April – Agustus) atau ‘pertengahan’ antar dua musim. Untuk menentukan bulan berlangsungnya musim timur, nelayan Mandar pada umumnya menggunakan penanggalan masehi dan membandingkannya dengan tanda-tanda astronomi (bintang).
Lokasi untuk motangnga yang dilakukan oleh nelayan Mandar adalah di atas palung Selat Makassar atau pada kedalaman 2.000 – 30.000 meter. Pengetahun untuk memilih lautan yang sudah mencapai kedalaman tersebut tidak dilakukan dengan pengukuran secara langsung tetapi atas pengetahuan yang sudah turun-temurun, yaitu ketika landmark (dalam hal ini pegunungan) yang dipilih nelayan sudah terlihat kecil, maka wilayah perairan tersebut sudah dapat dijadikan awalan untuk penghanyutan.
Jalur pelayaran standar untuk motangnga bagi nelayan Mandar adalah: daerah asal – Teluk Pamboang – tangnga sasi (tengah lautan atau lautan yang sudah dalam) – menghanyut – daerah asal. Beberapa nelayan Mandar memilih jalur langsung, yaitu tidak singgah di Teluk Pamboang dan langsung menuju ke lokasi perairan yang dalam.
Dulu kegiatan motangnga identik dengan perahu tradisional dari Mandar, sandeq. Saat ini jumlah nelayan yang menggunakan kapal motor relative sama dengan jumlah nelayan yang menggunakan sandeq. Kelebihan sandeq dibandingkan kapal motor adalah sandeq tidak membutuhkan bahan bakar karena menggunakan layar yang digerakkan oleh tenaga angin.
Pada awalnya, kegiatan motangnga adalah untuk menangkap ikan terbang, telurnya hanya sebagai hasil sampingan karena pada saat itu ikan terbang selalu melekatkan telurnya di alat tangkap. Telur ikan terbang belum merupakan komoditas yang diperdagangkan pada saat itu. Setelah selesai motangnga, potangnga membagikan telur-telur ikan tersebut kepada tetangga dan kerabat mereka secara gratis. Ketika ada permintaan telur ikan dari luar negeri, mulai pada saat itulah telur ikan mempunyai nilai ekonomis penting untuk diekspor dan secara perlahan menggantikan posisi ikan sebagai target utama motangnga. Selanjutnya, ada beberapa nelayan yang mengkhususkan diri untuk menangkap telur ikan saja. Mereka disebut pattalloq, yaitu nelayan yang mencari telur ikan terbang.
Telur ikan yang terkumpul kemudian dijemur dengan sinar matahari selama 3 hari. Setelah itu dijual ke pengepul untuk diekspor ke Jepang. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, harga per kilo saat ini adalah Rp. 180,000.
Setelah saya puas melihat kampung nelayan Pambusuang, saya lanjut menuju ke Majene dengan naik motor selama 2 jam. Pemandangan yang saya lewati sungguh indah, kanan gunung, kiri lautan. Jalan raya sangat bagus dan bersih. Saya makan siang ikan terbang bakar dengan jepa sebagai pengganti nasi dan minum es kelapa muda di daerah Somba, Majene. Tidak lupa saya mampir ke Pantai Dato’ untuk menikmati pantai yang bersih.
Esok harinya sebelum pulang, saya mengunjungi pasar tradisional di Tinambung untuk melihat hasil laut yang dijual. Ada banyak sekali ikan yang saya temukan di sana, diantaranya adalah cakalang, tongkol, kembung, kakap, bandeng, udang, cumi, teri dan tuna. Saya senang sekali melihat ikan-ikan segar yang dijual di pasar. Menurut informasi, banyak ikan segar yang belum diolah secara maksimal sehingga hanya berakhir menjadi ikan asap atau ikan kering. Mungkin suatu saat saya akan kembali lagi dan mengajak teman-teman untuk mengadakan pelatihan pengolahan hasil perikanan supaya ikan-ikan segar tersebut bisa diolah dan menjadi hasil perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Tidak ketinggalan, saya mencicipi beberapa jajanan khas yaitu putu karoro dan apang.
Liburan saya di Mandar sudah selesai, saya harus kembali ke Makassar untuk kemudian terbang ke Jakarta. Dari Mandar ke Makassar saya naik angkutan umum yang penuh. Saya mulai terbiasa duduk berdesakan di angkutan umum dan saya sangat menikmati pemandangan yang saya lewati selama perjalanan. Sulawesi memang indah.

Monday, January 14, 2013

Indonesia vs Inter Milan












Watching Indonesia vs Inter Milan at Gelora Bung Karno stadium with my best friends: Tetsuma and Mba Ayu.
Tetsuma adalah penggemar Inter Milan karena ada orang Jepang yang bermain di Inter Milan. Aku dan Mba Ayu bukan penggemar Inter Milan, kami hanya penikmat sepak bola.
This is one of our good moments in our friendship.

Ikan Bakar Colo-Colo di Jogja








Ikan bakar colo-colo ini adalah warung makan yang ditemukan oleh Mba Ayu. Lokasinya cukup sulit, bukan di jalan utama. Kami semua sering sengaja merahasiakan tempat ini supaya kami tidak kehabisan ikan ketika datang ke tempat ini, hehehe. Aku dan sahabat-sahabatku sangat menyukai tempat ini. Kami memang sangat sehati dan kompak tentang selera makanan. Ya, kami semua sangat mencintai ikan! Biasanya aku ke sini bersama dengan geng Indonesia-Jepang UGM. Pernah juga aku, Mba Ayu dan Radit makan malam di sini dan karaoke karena seminggu sekali ada live karaoke di warung ini. Menu yang sangat kami sukai adalah ikan bakar colo-colo. Penjualnya hafal betul dengan geng kami karena kami sangat sering makan di sini.

Aku dan Kamera DSLR




January 2010
Sebelum berangkat ke Jepang, aku membeli kamera DSLR Canon EOS 1000D (Kamera ini sama persis dengan kamera DSLR yang dimiliki oleh Mas Ilham). Kamera ini yang merekam semua momen-momen penting aku bersama Mas Ilham dan sahabat-sahabatku semasa kuliah.
This is my first DSLR camera. I like it very much, and I named it “Shannon”. After I broke up with Mas Ilham, I sold this camera because it has too many stories about me and Mas Ilham. Goodbye, Shannon.
December 2013
20122012 (20 -12 – 2012)
Tanggal cantik untuk membeli kamera DSLR baru. Kali ini aku pindah “agama”, dari pemakai Canon menjadi pemakai Nikon. Setelah membaca review sana sini, dan diskusi sana sini, akhirnya aku membeli Nikon D90 (body only). Selanjutnya aku membeli  lensa Nikon AF NIKKOR 50mm f/1.8D. I love my new DSLR camera!

Skiing in Ishizuchi Mountain




  



 
























 


February 21, 2010

Hari ini kami akan bermain ski! Kami berangkat dengan naik bus. Kami berkumpul dulu di kampus Ehime University. Osozawa sensee memberikan pengarahan kepada kami semua sebelum berangkat. Beliau tidak ikut skiing dengan kami, tetapi akan menyusul kami di penginapan di sana sorenya. Teman-teman Jepang diminta untuk menjadi guide selama kami bermain ski. Setelah kami semua siap berangkat, kami memulai perjalanan menuju Gunung Ishizchi yang berjarak sekitar 3 jam dari Matsuyama City. Setelah sampai di kaki gunung Ishizuchi, kami meletakkan barang-barang di penginapan. Penginapannya sangat cantik, dengan dinding kayu. Pemandangan sekitar juga sangat indah sekali. Ada sungai yang mengalir dengan tenang dan jernih. Pohon-pohon di hutan yang tinggi menjulang. Batu-batu sungai yang berwarna-warni. Bahagia sekali berada di tempat ini. Kemudian kami berangkat ke lokasi bermain ski dengan mobil. Setelah dekat dengan lokasi, mobil diparkir dan kami naik ke atas gunung dengan menggunakan cable car. Pohon-pohon cemara terlihat putih karena tertimbun salju. Sesampai di lokasi bermain ski, teman-teman Jepang mengajari kami bermain ski sampai puas. Sore hari kami kembali ke penginapan dan makan malam, lalu istirahat.
About Ishizuchi Mountain 
(source http://www.tourismshikoku.org/)
At 1,982m, this mountain is West Japan's tallest. Most people climb it using the Omotesando course that starts near the city of Saijo. This holy mountain is counted among the seven holiest mountains in Japan. The mountain trail includes a trail chain to help with steep portions. (Less steep, indirect route is also available.)